*Ahmad Hamim
Alhamdulillah tahun pelajaran baru sudah dimulai, santriwati mulai berdatangan setelah liburan panjang akhir tahun pelajaran kemarin. Suasana pondok ramai kembali dengan berbagai aktivitas yang ada.
Begitu juga santriwati baru sudah berdatangan dari berbagai daerah penjuru Nusantara, dari Sumatra, Palangkaraya, Manado, Bali, Nusa tenggara timur hingga Nabire Papua, tak ketinggalan dari berbagai kota di Jawa juga, berduyun-duyun para orang tua mengantar mereka. Kampung Brumbung tempat Pondok Roja berada semakin riuh “dadi rejo” memberikan kebanggaan tersendiri bagi warganya.
Begitu juga santriwati baru sudah berdatangan dari berbagai daerah penjuru Nusantara, dari Sumatra, Palangkaraya, Manado, Bali, Nusa tenggara timur hingga Nabire Papua, tak ketinggalan dari berbagai kota di Jawa juga, berduyun-duyun para orang tua mengantar mereka. Kampung Brumbung tempat Pondok Roja berada semakin riuh “dadi rejo” memberikan kebanggaan tersendiri bagi warganya.
Di Pondok Roja tidak ada tes seleksi penerimaan, hanya tes untuk mengetahui kemampuan akademis, bacaan dan hafalan Alquran saja, tidak ada tes yang rumit atau syarat nilai akademik yang tinggi. Meski banyak juga yang terdaftar memiliki kemampuan dan nilai diatas rata-rata.
Begitu juga dengan biaya pendidikan, kami tidak membedakan antara yang full pembayaran dengan yang tidak full pembayaran.
Semuanya kami terima, karena ini merupakan pintu keberkahan buat kami.
Bukan berarti karena Pondok Roja masih Pondok rintisan, tapi sudah menjadi komitmen dan visi-misi perjuangan kami. Sejak awal dan sampai seterusnya insyaalloh menjadi Pondok untuk semua kalangan.
Pondok Roja memang memiliki standar input dan standar output yang berbeda dengan tetap profesional dalam menjalankan programnya.
Banyak orang meragukan “jalan” yang kami tempuh, dari masyarakat umum hingga orang terdekat. Menjadi cambuk buat kami untuk terus berikhtiar mewujudkan visi-misi perjuangan dan tibalah saatnya nanti yang akan menjawabnya, dengan prestasi dan hasil yang bermanfaat.
Alhamdulillah, dengan metode yang kami terapkan dan semangat asatidzah semua capaian hafalan Al-Qur’an santriwati sudah mulai menunjukkan perkembangan.
Santriwati yang awalnya belum mempunyai hafalan sedikitpun, perjalanan masuk 3 tahun ini rata-rata sudah 10 Juz, bahkan ada lebih diatasnya.
Santriwati yang awalnya masuk hanya bermodalkan iqro’ jilid 3, setelah 1 tahun berjalan saat ini sudah 2 juz hafalannya.
Disamping itu program pengembangan bahasa Arab juga mulai nampak perkembangannya, maka jangan heran bila berkunjung di Pondok Roja seakan berada di luar negri, percakapan santriwati riuh berbahasa Arab, meskipun bahasa Arab mereka tidak bisa dipahami oleh orang Arab sendiri hehehehe… Karena bahasanya masih Arab “pasaran”, masih Arab Indonesia, atau bahasa Indonesia yang diarabkan.
Tapi itu adalah proses. Proses pembiasaan agar lidah dan bibir santriwati terbiasa dengan bahasa Arab dan bila meraka terbiasa berbicara dengan bahasa Arab maka semakin mudah jalan untuk menghafal Al-Qur’an.
Selain program unggulan tahfizdul Qur’an dan bahasa Arab, Pondok Roja juga menanamkan semangat dan mengarahkan santriwati untuk menemukan minat bakatnya sendiri, membangun imajinasi dan cita-cita mereka.
Bebas untuk siapapun menjadi apapun keinginan mereka dalam kaidah yang disyariatkan Agama.
Harapan kami kedepan akan muncul Muslimah yang bermartabat, akan muncul pengusaha muslimah yang hafidzoh, pejabat muslimah yang hafidzoh, ilmuan muslimah yang hafidzoh, dan mengisi berbagai lini kehidupan adalah muslimah hafidzoh.
Pondok Roja hanya menyiapkan “bingkai” yang didalamnya santriwati bebas melukis keinginan dan cita-cita mereka, Pondok Roja hanya menyiapkan “benih” yang akan di sebar di belahan dunia, karena Indonesia terlalu sempit untuk menampung cita-cita mereka.
Dengan artian Al-Qur’an menjadi dasar pikiran, perbuatan dan pengamalan mereka.
Pondok Roja adalah pondok harapan, harapan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia dan bermanfaat, insyaalloh.
#PondokRoja