*Ahmad Hamim

Kemarin adalah awal masuk santriwati baru Pondok Roja tahun pelajaran ini, diawali dengan kegiatan Khutbah Ta’aruf orang tua/wali santri, berbeda dengan tahun sebelumnya, wali santri datang dari berbagai daerah penjuru Nusantara, sehingga kami agak kewalahan menyambut tamu yang datang, karena orang tua yang mengantar anaknya membawa serta keluarga, pak de’ Bu de’nya, mbah nya, bahkan tetangganya juga diajak. Ini semua dilakukan untuk memberikan semangat kepada anak meraka.

Terlebih yang datang dari luar kota dan luar Jawa, mereka datang sejak sehari sebelumnya, karena keterbatasan ruang tamu, maka kami tempatkan di ruang kelas dan asrama, ada juga yang tidak tertampung kami persilahkan istirahat di dalam masjid. Begitu semangatnya orang tua demi masa depan anaknya.

Dalam sambutan Khutbah Ta’aruf, saya menyampaikan terimakasih kepada para orang tua/wali santri yang telah mengamanahkan pendidikan anak mereka di Pondok Roja. Saya mengajak mereka untuk bersinergi dalam proses pendidikan ini, dorongan semangat dan doa’ orang tua adalah salah satu kunci keberhasilan proses pendidikan anak mereka di Pondok Roja.

Orang tua harus senang dan ikhlas dalam melepaskan anaknya untuk belajar, orang tua juga harus bersabar menahan rasa kangen, karena perasaan gelisah orang tua akan tersalur kepada jiwa anaknya, anaknya juga akan ikut gelisah goyah hatinya.

Memang pada awal santri masuk Pondok akan mengalami beberapa fase penyesuaian adaptasi lingkungan baru. Fase yang sensitif adalah 3 bulan pertama, banyak santri yang menangis tersedu-sedu bahkan ada yang meronta-ronta tatkala ditinggal pulang orang tuanya,orang tua juga pasti sedih dan terharu.

Pekan pertama banyak santri yang duduk di pojok kamar, menunduk dengan mata sembab bercucur air mata, ada juga ketika siang begitu ceria tapi tatkala azan Maghrib berkumandang tangisan mereka pecah mengiringi suara azan, menderu bersahut-sahutan.

Tidak mengapa mereka menangis, menangislah sekarang sebelum menangis itu di larang, menangislah sekarang karena rasa rindu kepada orang tua, jangan sampai engkau menangis karena penyesalan di masa depan.

Tidak mengapa mereka menangis, menangislah sekarang sebelum menangis itu di larang, menangislah sekarang karena rasa rindu kepada orang tua, jangan sampai engkau menangis karena penyesalan di masa depan.

Ada juga santri yang masih goyah jiwanya, sesekali masih menangis, suasana di rumah terasa lebih membahagiakan, di rumah bisa bermain apa saja, bisa jalan-jalan kemana saja. Sangat berbeda dengan di Pondok, semuanya serba diatur, semuanya serba dibatasi.

Mau makan antri, mandi antri, masuk kelas tidak boleh telat, masuk masjid harus tepat waktu, wajib piket kebersihan, dipaksa menghafal, dipaksa belajar, dan sederet aturan yang lainnya. Itu semua adalah sarana berproses, berproses menempa diri, berproses untuk masa depan yang lebih baik.

Santri yang masih merasa terbebani dengan rutinitas di pondok seperti itu akan meluapkan emosi dengan berbagai alasan ke pada orangtuanya agar di pindahkan dari Pondok, banyak alasan karena tidak kerasan, santri beralasan sakit pusing, sakit perut, sandalnya hilang, bajunya hilang, sabunnya hilang, Ustadzahnya tidak perhatian, dimusuhi teman, dihukum karena pelanggan dan lain sebagainya. Intinya untuk meraih simpati orang tua agar bisa keluar dari Pondok.

Orang tua mesti bijak menghadapinya, sabar dan tidak terpancing omosional, kalau anak bilang sakit, ya di obati dibawa ke dokter, bila sudah sehat kembalikan lagi ke Pondok, kalau sakit lagi ya di obati lagi, bila sudah sembuh bawa lagi ke pondok, begitulah orang tua mesti bersabar. Insyaalloh anak lambat laun akan memahami dan kerasan di pondok.

Itulah fase 3 bulan pertama yang sensitif, bila sudah melewati fase tersebut, insyaalloh santri sudah kerasan di Pondok.

Dalam proses pendidikan kita semua harus bersabar, pendidikan itu tidak instan, hasilnya tidak saat itu juga terlihat. Kadang kala santri yang sedikit “ruwet” seperti itu, justru dia adalah anak yang berprestasi dikemudian hari.

Bersabar adalah kuncinya, suatu saat nanti orang tua akan “memanen” buah kesabaran, melihat anaknya berperan dalam masyarakat dengan ilmu, bakat dan akhlak yang membanggakan, insyaalloh..
Dan terukir senyum syukur kepada Allah.

#PondokRoja